SUPERMOM WANNABE (WORK LIFE BALANCE)
Notulensi BIAS (Bincang Asik ala Supermom) #6 Tanggal: 18.12.2017 pukul 19.30-22.00 Tema: Work-Life Balance Curriculum Vitae Pembicara:
Name : Emi Zulaifah
Place & Date of birth : Yogyakarta, June 3rd 1968
Marital Status : Married, 5 Children.
Private address : Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55881
Phone Number : +62 274 8722029
Email address : emiriyono@yahoo.com
Background of Education and Training
Higher Education
2009-2015 : Doctor of Philosophy in Psychology (Dr. Phil), obtained from The Institute of Psychology, Faculty of Psychology, Pharmacy and Bioscience, University of Leipzig, Germany
2001-2003 : Master of Science in Industrial/ Organizational Psychology from Psychology Department , San Francisco State University, San Francisco, California, United States of America.
1986-1992 : Bachelor of Psychology from Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia.
Lower to Middle Education
1983-1986 : SMA N 1, State High School of Yogyakarta.
1980-1983 : SMP N 8, State Junior High School of Yogyakarta
1974-1980 : SD Muhammadiyah Wirobarajan 1 Yogyakarta, Islamic Primary School
1973-1974 : TK Aisyiah Bustanul Athfal- Wirobrajan- Yogyakarta, Islamic Kindergarten.
Work/ Professional Experience
Sept 1995-current: Academic staff in the Dept. of Psychology, Islamic University of Indonesia (UII).
Psychology Teaching Experience
General Introduction to Psychology, Cognitive Psychology, I/O psychology, I/O Psychology Seminar, Organizational Change and Development, Cross Cultural Psychology, Research Method, Bachelor Thesis Preparation, Qualitative Research Method, Training Design.
Community and Professional Organization Involvement
2015- Present
Volunteer in Gerakan Indonesia Beradab
2012- current
Board Member, Indonesia Foundation for Intercultural Learning, Chapter Yogyakarta (2012-current). This organization has ran exchange programs since 1959, and since than its over 2000 alumni are in various roles , in public, non profit and profit organization around Indonesia.
2012- current
Advisory Board, Yogyakarta Community School (School for International Community in Yogyakarta). This school is developed to serve the need of mobile families who find that school with international standard of education help their children to adjust and learn better in their new place (Yogyakarta).
2007- current
Member of I/O Psychology Association/ APIO- Indonesia-Yogyakarta
1998- current
Member of Indonesian Psychological Association
1989-current
Member of JAL-Japan Airline Scholarship Alumni
1988- current
Member of AFS-Bina Antar Budaya (AFS Exchange and the Indonesian Foundation for Intercultural Learning) Returnees, since 1988.
Pemaparan Materi dari Pembicara:
Work- Life Balance (WLB)
Topik WLB sebenarnya merupakan bagian dari kajian tentang kualitas kehidupan bekerja/Quality of work life (QWL). Masalah ini menjadi perhatian sudah lama, karena keprihatinan bahwa tuntutan bekerja di sektor industri/publik ternyata bisa membuat seseorang kehilangan makna hidupnya secara utuh.
Lebih jauh ada juga beberapa alasan makro-sosial yang menunjukkan bahwa kajian work-life ini memiliki urgensinya, terutama ketika orang mulai melihat data tentang kehidupan keluarga yang memprihatinkan di negara-negara maju. Misalnya: peningkatan perceraian, anak-anak bermasalah, dan lain sebagainya.
Selain itu, Kanter pada tahun 70-an juga memopulerkan ide tentang batasan kehidupan bekerja dan kehidupan di luar pekerjaan yang cair dan tidak jelas. Para pengkaji meyakini bahwa tiap-tiap pekerja harus melakukan sesuatu tugas sambil masih dipengaruhi oleh tugas-tugas di area lainnya. Ketika kita berangkat bekerja, mungkin kita masih harus menuliskan menu untuk disiapkan hari itu di rumah, misalnya. Jadi sebenarnya kita sedang bekerja atau sedang mengurusi rumah? Atau sebaliknya, ketika sudah pulang ternyata melanjutkan pekerjaan kantor yang belum selesai.
Beberapa alasan tersebut menjadi pendorong lahirnya kajian Work-life/family interface. Sudah cukup lama bahwa beberapa indikator tentang kehidupan bekerja yang berkualitas dirumusakan, yang di dalamnya work-life interface bisa kita temukan, antara lain:
1. adequate and fair compensation
2. safe and healthy working conditions
3. opportunity to use and develop human capacities
4. opportunity to growth and security
5. social integration in the work organisation
6. constitution in the work organisation
7. work and total life span and
8. social relevance of work life.
Kehidupan bekerja yang berkualitas, salah satunya menyebutkan bahwa bekerja tidak boleh membuat seseorang kehilangan(makna) hidupnya secara keseluruhan (poin 7). Selain bekerja orang memiliki area lain di dalam hidupnya, seperti: keluarga, lingkungan sosial atau kehidupan pribadinya yang tidak kalah penting. Mengorbankan hal-hal ini untuk sesuatu yang kita sebut pekerjaan akan menjadi pertanda bahwa QWL kita masih kurang bagus.
Saling interaksi antara pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan ini secara umum memiliki beberapa sisi untuk kita bahas.
1. Sifat: Bisa besifat negatif (interferensi/ konflik), bisa bersifat positif (balance, enhancement).
2. Dampak: Work related dan non work related impacts.
3. Scope dari dampak : bisa berupa spillover (hanya berdampak pada dirinya), atau crossover (berdampak pada orang lain di sekitarnya).
4. Strategi mengelola W-Life Interface, terdiri dari: akomodasi, kompensasi, segmentasi.
Berjalannya kehidupan bekerja dan kehidupan di luar pekerjaan dengan baik inilah yang sering disebut dengan work-life balance.
Kapan kita dikatakan memiliki WLB yang baik. Indikatornya adalah ketika terjadi keseimbangan terkait: komitmen, kepuasan dan alokasi waktu dalam dua area tersebut, minimal.
Sesi Diskusi:
1. Apa maksud dari poin ke delapan yaitu social relevance of work life pada materi di atas?
Jawab:
Delapan poin itu, merupakan konsep awal tentang QWL (Walton, HBR- akhir tahun 70-an). Organisasi semacam ILO juga memiliki kritetia sendiri yang sebagiannya mirip. Social relevance artinya pekerjaan yang dilakukan memiliki makna sosial yang lebih luas bagi orang di sekitarnya. Misal, kita bekerja untuk perusahaan listrik. Jika kita maknai dengan dangkal, maka urusan kita seperti hanya berurusan dengan menjual daya. Tapi begitu kita bisa membayangkan bahwa tanpa listrik peradaban akan tertinggal, misalnya, kita bisa melihat makna pekerjaan kita bagi masyarakat yang lebih luas. Wujud meningkatkan social relevance sekarang banyak dilakukan melalui program CSR.
2. Ada yang berpendapat work-life balance itu relatif. Ada yang balance kerja 8 jam/hari, ada yang balance kerja 12 jam/hari dan lainnya. Benarkah demikian?
Jawab:
Kita bisa kembalikan pada indikator sederhana yang sudah dikemukakan. Dengan jam kerja lebih lama, apakah diikuti keterlibatan/ komitmen dan kepuasan yang sama dengan kehidupan di luar pekerjaaan kita? Indikator kita minimal ada tiga: waktu, komitmen/ keterlibatan dan kepuasan. Jika ketiganya terjadi maka balance terjadi.
3. Sudah membuat schedule/to do list sehari supaya tetap terarah. Namun belum bisa menjaga fokus dan banyak yang tidak terlaksana. Bagaimana agar bisa tetap fokus pada jadwal harian yang telah kita buat?
Jawab:
Untuk terjadinya keseimbangan salah satunya dengan melibatkan pengelolaan waktu. Seluruh manusia bisa berbeda dalam banyak hal tapi dalam hal waktu kita sama. Beberapa orang akan mencoba mengelolanya dengan cara mingguan. Setelah akhir pekan sebelum Senin mulai, kita bisa rencanakan bagaimana minggu tersebut akan dilalui. Bagaimana cara supaya tetap fokus dan tetap menaati schedule yang sudah dibuat? Salah satunya dengan mengenali distraktor kita. Hal tak perlu yang seringkali "nyelonong" seolah-olah dia urgent. Mestinya ini tidak kita "layani".
4. Bagaimana kita bisa menjaga komitmen untuk tetap balance sedangkan terkadang pekerjaan di kantor ada yang tidak terduga deadline-nya, sehingga terkadang waktu yang dihabiskan untuk keluarga terpaksa harus digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor?
Jawab:
Ini dia, ketidakterdugaan ini bukan sesuatu yang ideal kalau terkait jadwal. Mengapa tak terduga? Apakah karena ada krisis?
Juga demikian kita harus betul-betul membuat keluarga faham terhadap situasinya. Atau memang model kerjanya tak terduga terus? Yang ini kita bisa mengevaluasinya. Kalau senantiasa tak terduga, QWL kurang bagus ya. Karena tugas jadi sulit dikelola. Kantor kita jika demikian mungkin belum memahami prinsip QWL yang baik. Banyak sisi kehidupan karyawan yang kemudian dikorbankan.
5. Kondisi: pernah bekerja tapi hanya satu tahun lamanya. Setelahnya resign dan menikah. Sekarang disibukan menjadi IRT dan mengurus batita serta ibu yang sakit. Semua itu dilakukan sendiri tanpa ART. Ada keinginan untuk kembali bekerja hanya saja ada ketakutan jika nanti tidak bisa seimbang keduanya terutama dalam mendidik anak. Langkah pertama atau persiapan apa yang bisa dilakukan agar nanti bisa memiliki WLB?
Jawab:
Anda sedang melakukan tugas amat mulia sebenarnya ya. Eternal reward kelak menantikan, untuk semua kerelaannya dalam mengasuh batita dan merawat ibunda. Insyaallah. Aamiin.
Demografi seperti ini yang membuat masalah work-family interface menjadi "urgent" di negara lain. Lebih dari 50% karyawan di AS di masa masa sekarang harus berurusan dengan elderly care. Sehingga tempat bekerja diminta peduli tentang keadaan ini.
Di banyak negara Eropa, siapa saja yang bersedia mengasuh anak, harus diberikan hak-hak nya dengan baik, ditopang negara. Saya belum tahu apakah di Indonesia hal ini diperhatikan dengan baik. Misal, adakah hak untuk membuat jam kerja menjadi fleksibel (flexitime) sesuai kebutuhan karyawannya. Beberapa tempat kerja, seperti universitas akan cukup akomodatif tentang hal ini, namun tidak semua juga.
Jika masih ingin bekerja, mungkin bisa dengan mencari yang bisa paruh waktu. Pekerjaan yang bisa dikelola sendiri, sehingga tidak perlu banyak meninggalkan keluarga, misalnya. Beberapa teman milenial mengambil pekerjaan sebagai content editor, bisa dikerjakan di rumah. Itu salah satu contohnya.
Ajak juga pasangan berkomunikasi tentang situasi ini. Support pasangan sungguh penting untuk terjadinya keseimbangan.
6. Apakah ada penelitian-penelitian yang menyatakan hubungan antara status ibu (ibu bekerja/tidak bekerja) dengan kualitas anak (baik kecerdasan, kejiwaan, dan spritual) dan signifikan atau tidak perbedaannya?
Jawab:
Banyak penelitian tentang dual earner families. Jika kedua-duanya bekerja lalu yang terjadi adalah work-family conflict, maka dampak yang kurang menguntungkan biasanya terjadi.
Mohon maaf saya tidak terlalu detail tentang siapa penelitinya ya (tidak ingat), tapi pada keluarga dengan dua orang tua bekerja, tiga perempatnya memiliki anak bermasalah. Ada sebuah penelitian tentang ini. Ketika orang tua terlalu fokus pada karier, maka pengaruh dari teman juga lebih kuat, dibandingkan pengaruh dari orang tua/ keluarganya. Penelitian ini juga ada.
Data akan lebih "menyedihkan" jika kita lihat pada pekerja yang model bekerjanya jam-jaman. Misal kalau di AS itu orang bisa punya job sampai 3, di mcD, di wendy, di pizza hut misalnya. Jam-jaman. Pulang-pulang orang tua sudah capek, belajar anak-anaknya tak terpantau dan seterusnya.
Untuk keagamaan (saya lebih senang menyebut demikian, daripada spiritualitas), ini bagus untuk kita jadikan ide penelitian di Indonesia. Bagaimana para ibu bekerja bisa memastikan bahwa anak-anaknya terbina kualitas dirinya dengan baik, termasuk keagamaan.
7. Saya masih bingung terkait tiga indikator yang disebutkan di atas yaitu waktu, komitmen/keterlibatan dan kepuasan. itu maksudnya bagaimanakah jika diterapkan dlm QWL dan hubungan dengan keluarga?
Jawab:
QWL mensyaratkan adanya balance. Kalau mau disebut kehidupan bekerja kita berkualitas, maka antara bekerja dan kehidupan di luar bekerja itu seharusnya balance. Istilah lainnya enhanced. Bekerja akan memperkuat kehidupan keluarga, keluarga juga berdampak baik terhadap pekerjaannya. Bukan saling melemahkan.
Tiga indikator yang dimaksud, berlaku di area bekerja dan di luar pekerjaannya.
- Waktu: sama-sama mendapatkan waktu yang cukup.
- Komitmen/keterlibatan: sama-sama mendapatkan komitmen yang cukup
- Kepuasan: jika diukur kepuasannya, terhadap pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan, orang sama-sama merasakan puas/senang.
Banyak di negara lain orang terserap pekerjaan sedemikian rupa, sampai harus mengatakan "I do not have a life".
Dan sebenarnya, dalam hidup kita ada lima relasi yang harus kita pelihara:
1. Terhadap Allah
2. Alam/lingkungan
3. Sesama manusia
4. Diri sendiri
5. Benda/ciptaan.
Sedang pekerjaan kita, itu sebenarnya kita lakukan karena kita mau bersyukur. Jika tujuannya itu, biasanya otomatis pada balance sendiri. Maaf agak belok dari mainstream work-life interface.
Dunia modern seringkali melihat pekerjaan tereduksi sedemikian rupa. Dia tak menimbang bahwa setiap insan yang bekerja memiliki relasi (lima yang tersebut di atas) yang jarus dijaga.
Direduksi, misal untuk profit saja ukurannya. Akibatnya, yang terjadi "imbalance".
8. Apakah definisi 'work' dalam 'work - life balance' hanya untuk pekerjaaan yang menghasilkan 'rupiah award', bagaimana dengan seorang IRT, apakah perlu work life balance karena bisa tampak sekali kalau kerjaannya (cuci piring, nyapu, ngepel, ngasuh anak dll) tidak menjamin menghasilkan rupiah?
Jawab:
Pertanyaan bagus. Kebanyakan penelitian WLB memang masih terkait dengan paid work. Tapi tidak berarti seorang ibu yang penuh waktu (full time mother), lalu tidak bisa memperoleh balance.
Definisi balance bisa berkaitan pula dengan beragam peran lain. Misal, seorang ibu penuh waktu, juga bisa berperan sebagai penggerak masyarakat. Artinya, perannya tidak cuma satu sebagai Ibu. Tapi memiliki peran lain juga, meskipun sifatnya unpaid. Agak menyimpang dari istilah "kerja" dalam telaah umumnya. Tapi bisa diperluas ke sana.
Setiap insan bisa menjadi "contributing member" untuk masyarakatnya. Tidak hanya mereka yang terlibat dalam paid work.
Sejujurnya, kalau nilai-nilai keyakinan saya justru me "warning" agar pekerjaan kita jauh dari tujuan materialistik (akumulasi materi), tapi lebih mulia jika tujuannya adalah untuk memberikan kemampuan, waktu dan tenaga kita untuk orang lebih banyak
9. Apa saja indikator keberhasilan WLB? Apa yang menandakan kita sudah berhasil menjalani hidup yang seimbang?
Jawab:
Keberhasilan WLB... Nilai puncaknya adalah satisfaction. Tak bisa disamakan. Ketika secara psikologis kita telah "ridho" dengan kehidupan kita, maka itulah balance sebenarnya.
10. Bagaimana dengan memulai usaha dirumah sambil mengasuh anak dan mengurus keluarga? Apakah itu ide bagus atau tidak? Lalu apa kiat-kiat yang ibu sarankan untuk hal ini?
Jawab:
Memulai usaha di rumah itu bagus. Kalaupun bukan usaha mandiri, pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah juga bagus. Ini ada data, di London (Hmmm atau Inggris ya, maaf akurasi agak terganggu), 40% wanita memilih bekerja dari rumah. #Jamannow, memungkinkan untuk itu.
11. Bagaimana jika distraktor yang membuat tidak fokus dengan pekerjaan karena pikiran kita sendiri yang selalu kepikiran banyak pekerjaan dalam satu waktu? Pengennya sekali jalan semua selesai. Kayak selalu kemrungsung. Wanita pada akhirnya dituntut menjadi multitasking. Apakah itu baik dan menunjang WLB? Jika iya, bagaimana caranya?
Jawab:
Untuk banyaknya hal yang kita pikirkan, coba kita buat prioritas. Darimana membuatnya? Dari hal-hal yang besar dan penting dulu. Urusan kecil bisa sambil jalan saja.
Coba kita buat list. Apa saja yang menjadi peran kita.
1. Ibu
2. Istri
3. Karyawan
4. Tetangga
5. Anggota keluarga besar
Masing-masing kita tentukan tujuan yang ingin dicapai dari peran tsb.
Misal:
1. Ibu: mensupport pertumbuhan anak, menjadi teman ketika dibutuhkan
Cara: membantu keperluannya, meringankan kesulitannya
Waktu: misal pagi hari (critical time biasanya), pulang sekolah, dan malam hari
Jadi di critical time tersebut, distraktor jangan dilayani dulu. Misal ngecek pesan di wa (tidak penting ini, tapi tampak urgent kan). Setiap kita pasti multitasking. Perannya tidak pernah cuma satu. Para ibu yang luar biasa di sini, bisa identifikasi peran2 tsb, dan melihat situasi ideal yang kita inginkan terkait peran tsb.
2. Sebagai istri, misalnya lagi: mendukung suami, menjadi temannya, resourceful ketika diperlukan idenya.
Kapan waktunya?
12. Bagaimana dengan wanita yang kesulitan multitasking?
Jawab:
Kalau pekerjaan itu butuh fokus sekali, dipakai multitasking memang menjadi sulit. Ketika berhadapan dengan tugas seperti ini memang kita harus curahkan waktu dan mental ke situ dulu (diprioritaskan). Sukur-sukur bisa dicicil, maka kita beri dia alokasi waktu seperlunya.
Misal: analisis data, bikin desain dan semacamnya. Kalau tidak fokus tak rampung-rampung.
Ketidakmampuan multitasking (bukan karena tugas amat serius) memang bisa terjadi. Saya amati karena terjebak pada distraktor atau situasi khusus.
Contoh kasus: Long distance family. Agak distress karena sehari-hari urus keluarga sendirian, suami kerja di luar kota. Pelarian: banyak gadget. Dampak: rumah tak terurus. Anak: kurang perhatian
Ketidakmampuan multitasking-nya dipicu stressor, coping-nya keliru (ngegadget). Di situasi itu butuh (istilah teman saya), syaraf yang lebih tebal untuk tak mudah kesal, sehingga kehidupan tetap bisa berjalan baik.
13. Bu Emi, terkait salah Satu indikator keberhasilan WLB adalah satisfaction, sedangkan "standard ridho" suami berbeda-beda, kalau untuk full time mother,
bagaimana agar balance antara keluarga inti dan keinginan bakti ke keluarga besar ataupun masyarakat sekitar?
Jawab:
Betuuul sekali. Ambang ridhonya beda-beda. Ini beda issue WLB barat dengan Indonesia, terutama pada masyarakat Muslim. Ada masalah ridho suami.
Kita bisa gunakan cara identifikasi peran dan kondisi ideal yang diharapkan tadi.
1. Keluarga inti: loving and caring mom and spouse, misalnya
2. Keluarga besar: supportif, caring, resourceful, generous, misalnya lagi.
3. Masyarakat: contributing member untuk masy sekitar.
Btw coba kalau kita lihat ya... Ternyata urusan kita terkait peran-peran tersebut adalah "memberi". Apapun bentuknya.
14. Pasangan tidak pernah mempermasalahkan bekerja di luar, tapi justru jika full di rumah akan merasa bosan, lalu apa yang harus dilakukan?
Jawab:
Kembali ke persoalan ridho tadi: beberapa suami akan mengijinkan kita berbuat lebih banyak di luar, cuma kita musti mengomunikasikan bagaimana soal perhatian ke anak-anak. Apakah bisa didialogkan? Bagaimana keduanya akan saling mendukung?
15. Saya mahasiswi film. Setelah saya sempat magang dan bekerja, dunia itu terlalu menyita seluruh waktu, pikiran dan tenaga saya. Tapi memang tidak selalu, hanya saat ada proyeknya. Saya jadi terpikir untuk tidak harus bekerja di film saat setelah menikah. Tapi yang saya khawatirkan bagaimana jika saya menyesalinya? Kuliah belajar tentang hal tersebut tapi tidak digunakan. Apa yang harus saya pahami untuk menerimanya?
Jawab:
Masyaallah senangnya belajar film ya. Kira-kira apa yang dikorbankan untuk tetap menggunakan kemampuannya dalam hal ini?
- Dialog dengan calon suami tentang sifat pekerjaan. Jika kelak ridho dan mendukung... Wah lampu ijo ini.
- Bisakah skill ini dipakai untuk tujuan bersyukur: misal dengan mencari kemanfaatan lebih tinggi dari karya filmnya nanti, misal untuk mencerahkan masyarakat.
- Terpaksanya harus meninggalkan... Kok saya amati dalam seluruh perjalanan hidup manusia itu tidak ada yang sia-sia. Yang Allah berikan kepada kita kesempatan untuk menguasainya, pada suatu hari ternyata ada guna nya. Selalu demikian. Dots are connected.
Mungkin ketika anak-anak sudah cukup besar tetnyata kita bisa melakukan sesuatu dengan itu. Atau siapa tahu Insyaallah, kalaupun ketika mereka masih kecil, ternyata selalu saja dimungkinkan membawa mereka ada di dekat-dekat kita bahkan ketika bekerja.
Ketika remaja, saya punya aspirasi begini: tak mau kalau cuma berkarier, kering kayaknya.
Keluarga bagi saya penting, saya ingin jadi ibu yang baik. Tak tau bagaimana, kok desain hidup saya, saya selalu punya anak masih kecil ketika sedang menempuh studi. Jadi tidak harus full time kerja. Mendampingi masa kecil anak dimungkinkan.
Harapan kita itu seringkali dijawab Tuhan, dan hidup kita mengalir seperti yang kita bisikkan di dalam hati ternyata
16. Sebagai peneliti 'WLB mainstream' sekaligus peneliti dalam Asosiasi Psikologi Islam, saya ingin mengetahui bagaimana Ibu membahas WLB dalam sudut pandang Psikologi Islam?
Jawab:
Prinsip haq itu menjadi pokok dalan kita bekerja. Haq bermakna benar, balance, adil, dinamis pada porosnya. Bahwa sekarang dunia berlikir tentang WLB, itu sedang mendekati haq. Tadinya mereka mereduksi. Kini berpikir melihat manusia yang bekerja secara multidimensi.
Dampak dari tekanan bekerja bisa sangat buruk. Di Amerika, orang menyebutnya dekat dengan resesi sosial. Munculnya a generation if wimp (lemah). Di Eropa, dorongan untuk berkarier bagi laki-laki dan wanita, membuat mereka enggan berkeluarga dan beregenerasi sehingga jumlah penduduk anjlok. Maka dibuatlah family friendly policy.
Nah... Haq adalah sesuatu yang paling mendasar dalam Islam.
Atas alasan apa kita bekerja? Untuk apa? Bagaimana caranya? Apa yang dihasilkan. Kesemuanya harus benar dahulu. Memang kalau tak benar apa risikonya? nanti akan terjadi kebocoran di area lainnya. Bekerja dan karier baguuus tapi kehilangan makna, misalnya.
Psikologi Islam semestinya mendudukkannya pada tempatnya yang benar dan semestinya.
Prinsip: haq
Tujuan: Bertazkia
Nilai tertinggi: syukur
Penutup
Saya mungkin menutupnya dengan ini...
Bahwa untuk sukses (arabic: falah), perlu ujian (ibtila). Ini keniscayaan. Maka upaya membuat balance itu juga sebenarnya proses melalui ujian tersebut. Mengerjakannya dengan benar (haq), sabar dan dengan cinta (marhamah).
Sejauh-jauh yang kita capai dalam pekerjaan, akhirnya kita semua, bapak dan ibu, akan dimintai tanggungjawab terutama tentang keluarga. Maka kita tune semua peran hidup kita agar tak berat sebelah..
Name : Emi Zulaifah
Place & Date of birth : Yogyakarta, June 3rd 1968
Marital Status : Married, 5 Children.
Private address : Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 55881
Phone Number : +62 274 8722029
Email address : emiriyono@yahoo.com
Background of Education and Training
Higher Education
2009-2015 : Doctor of Philosophy in Psychology (Dr. Phil), obtained from The Institute of Psychology, Faculty of Psychology, Pharmacy and Bioscience, University of Leipzig, Germany
2001-2003 : Master of Science in Industrial/ Organizational Psychology from Psychology Department , San Francisco State University, San Francisco, California, United States of America.
1986-1992 : Bachelor of Psychology from Gadjah Mada University, Yogyakarta, Indonesia.
Lower to Middle Education
1983-1986 : SMA N 1, State High School of Yogyakarta.
1980-1983 : SMP N 8, State Junior High School of Yogyakarta
1974-1980 : SD Muhammadiyah Wirobarajan 1 Yogyakarta, Islamic Primary School
1973-1974 : TK Aisyiah Bustanul Athfal- Wirobrajan- Yogyakarta, Islamic Kindergarten.
Work/ Professional Experience
Sept 1995-current: Academic staff in the Dept. of Psychology, Islamic University of Indonesia (UII).
Psychology Teaching Experience
General Introduction to Psychology, Cognitive Psychology, I/O psychology, I/O Psychology Seminar, Organizational Change and Development, Cross Cultural Psychology, Research Method, Bachelor Thesis Preparation, Qualitative Research Method, Training Design.
Community and Professional Organization Involvement
2015- Present
Volunteer in Gerakan Indonesia Beradab
2012- current
Board Member, Indonesia Foundation for Intercultural Learning, Chapter Yogyakarta (2012-current). This organization has ran exchange programs since 1959, and since than its over 2000 alumni are in various roles , in public, non profit and profit organization around Indonesia.
2012- current
Advisory Board, Yogyakarta Community School (School for International Community in Yogyakarta). This school is developed to serve the need of mobile families who find that school with international standard of education help their children to adjust and learn better in their new place (Yogyakarta).
2007- current
Member of I/O Psychology Association/ APIO- Indonesia-Yogyakarta
1998- current
Member of Indonesian Psychological Association
1989-current
Member of JAL-Japan Airline Scholarship Alumni
1988- current
Member of AFS-Bina Antar Budaya (AFS Exchange and the Indonesian Foundation for Intercultural Learning) Returnees, since 1988.
Pemaparan Materi dari Pembicara:
Work- Life Balance (WLB)
Topik WLB sebenarnya merupakan bagian dari kajian tentang kualitas kehidupan bekerja/Quality of work life (QWL). Masalah ini menjadi perhatian sudah lama, karena keprihatinan bahwa tuntutan bekerja di sektor industri/publik ternyata bisa membuat seseorang kehilangan makna hidupnya secara utuh.
Lebih jauh ada juga beberapa alasan makro-sosial yang menunjukkan bahwa kajian work-life ini memiliki urgensinya, terutama ketika orang mulai melihat data tentang kehidupan keluarga yang memprihatinkan di negara-negara maju. Misalnya: peningkatan perceraian, anak-anak bermasalah, dan lain sebagainya.
Selain itu, Kanter pada tahun 70-an juga memopulerkan ide tentang batasan kehidupan bekerja dan kehidupan di luar pekerjaan yang cair dan tidak jelas. Para pengkaji meyakini bahwa tiap-tiap pekerja harus melakukan sesuatu tugas sambil masih dipengaruhi oleh tugas-tugas di area lainnya. Ketika kita berangkat bekerja, mungkin kita masih harus menuliskan menu untuk disiapkan hari itu di rumah, misalnya. Jadi sebenarnya kita sedang bekerja atau sedang mengurusi rumah? Atau sebaliknya, ketika sudah pulang ternyata melanjutkan pekerjaan kantor yang belum selesai.
Beberapa alasan tersebut menjadi pendorong lahirnya kajian Work-life/family interface. Sudah cukup lama bahwa beberapa indikator tentang kehidupan bekerja yang berkualitas dirumusakan, yang di dalamnya work-life interface bisa kita temukan, antara lain:
1. adequate and fair compensation
2. safe and healthy working conditions
3. opportunity to use and develop human capacities
4. opportunity to growth and security
5. social integration in the work organisation
6. constitution in the work organisation
7. work and total life span and
8. social relevance of work life.
Kehidupan bekerja yang berkualitas, salah satunya menyebutkan bahwa bekerja tidak boleh membuat seseorang kehilangan(makna) hidupnya secara keseluruhan (poin 7). Selain bekerja orang memiliki area lain di dalam hidupnya, seperti: keluarga, lingkungan sosial atau kehidupan pribadinya yang tidak kalah penting. Mengorbankan hal-hal ini untuk sesuatu yang kita sebut pekerjaan akan menjadi pertanda bahwa QWL kita masih kurang bagus.
Saling interaksi antara pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan ini secara umum memiliki beberapa sisi untuk kita bahas.
1. Sifat: Bisa besifat negatif (interferensi/ konflik), bisa bersifat positif (balance, enhancement).
2. Dampak: Work related dan non work related impacts.
3. Scope dari dampak : bisa berupa spillover (hanya berdampak pada dirinya), atau crossover (berdampak pada orang lain di sekitarnya).
4. Strategi mengelola W-Life Interface, terdiri dari: akomodasi, kompensasi, segmentasi.
Berjalannya kehidupan bekerja dan kehidupan di luar pekerjaan dengan baik inilah yang sering disebut dengan work-life balance.
Kapan kita dikatakan memiliki WLB yang baik. Indikatornya adalah ketika terjadi keseimbangan terkait: komitmen, kepuasan dan alokasi waktu dalam dua area tersebut, minimal.
Sesi Diskusi:
1. Apa maksud dari poin ke delapan yaitu social relevance of work life pada materi di atas?
Jawab:
Delapan poin itu, merupakan konsep awal tentang QWL (Walton, HBR- akhir tahun 70-an). Organisasi semacam ILO juga memiliki kritetia sendiri yang sebagiannya mirip. Social relevance artinya pekerjaan yang dilakukan memiliki makna sosial yang lebih luas bagi orang di sekitarnya. Misal, kita bekerja untuk perusahaan listrik. Jika kita maknai dengan dangkal, maka urusan kita seperti hanya berurusan dengan menjual daya. Tapi begitu kita bisa membayangkan bahwa tanpa listrik peradaban akan tertinggal, misalnya, kita bisa melihat makna pekerjaan kita bagi masyarakat yang lebih luas. Wujud meningkatkan social relevance sekarang banyak dilakukan melalui program CSR.
2. Ada yang berpendapat work-life balance itu relatif. Ada yang balance kerja 8 jam/hari, ada yang balance kerja 12 jam/hari dan lainnya. Benarkah demikian?
Jawab:
Kita bisa kembalikan pada indikator sederhana yang sudah dikemukakan. Dengan jam kerja lebih lama, apakah diikuti keterlibatan/ komitmen dan kepuasan yang sama dengan kehidupan di luar pekerjaaan kita? Indikator kita minimal ada tiga: waktu, komitmen/ keterlibatan dan kepuasan. Jika ketiganya terjadi maka balance terjadi.
3. Sudah membuat schedule/to do list sehari supaya tetap terarah. Namun belum bisa menjaga fokus dan banyak yang tidak terlaksana. Bagaimana agar bisa tetap fokus pada jadwal harian yang telah kita buat?
Jawab:
Untuk terjadinya keseimbangan salah satunya dengan melibatkan pengelolaan waktu. Seluruh manusia bisa berbeda dalam banyak hal tapi dalam hal waktu kita sama. Beberapa orang akan mencoba mengelolanya dengan cara mingguan. Setelah akhir pekan sebelum Senin mulai, kita bisa rencanakan bagaimana minggu tersebut akan dilalui. Bagaimana cara supaya tetap fokus dan tetap menaati schedule yang sudah dibuat? Salah satunya dengan mengenali distraktor kita. Hal tak perlu yang seringkali "nyelonong" seolah-olah dia urgent. Mestinya ini tidak kita "layani".
4. Bagaimana kita bisa menjaga komitmen untuk tetap balance sedangkan terkadang pekerjaan di kantor ada yang tidak terduga deadline-nya, sehingga terkadang waktu yang dihabiskan untuk keluarga terpaksa harus digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor?
Jawab:
Ini dia, ketidakterdugaan ini bukan sesuatu yang ideal kalau terkait jadwal. Mengapa tak terduga? Apakah karena ada krisis?
Juga demikian kita harus betul-betul membuat keluarga faham terhadap situasinya. Atau memang model kerjanya tak terduga terus? Yang ini kita bisa mengevaluasinya. Kalau senantiasa tak terduga, QWL kurang bagus ya. Karena tugas jadi sulit dikelola. Kantor kita jika demikian mungkin belum memahami prinsip QWL yang baik. Banyak sisi kehidupan karyawan yang kemudian dikorbankan.
5. Kondisi: pernah bekerja tapi hanya satu tahun lamanya. Setelahnya resign dan menikah. Sekarang disibukan menjadi IRT dan mengurus batita serta ibu yang sakit. Semua itu dilakukan sendiri tanpa ART. Ada keinginan untuk kembali bekerja hanya saja ada ketakutan jika nanti tidak bisa seimbang keduanya terutama dalam mendidik anak. Langkah pertama atau persiapan apa yang bisa dilakukan agar nanti bisa memiliki WLB?
Jawab:
Anda sedang melakukan tugas amat mulia sebenarnya ya. Eternal reward kelak menantikan, untuk semua kerelaannya dalam mengasuh batita dan merawat ibunda. Insyaallah. Aamiin.
Demografi seperti ini yang membuat masalah work-family interface menjadi "urgent" di negara lain. Lebih dari 50% karyawan di AS di masa masa sekarang harus berurusan dengan elderly care. Sehingga tempat bekerja diminta peduli tentang keadaan ini.
Di banyak negara Eropa, siapa saja yang bersedia mengasuh anak, harus diberikan hak-hak nya dengan baik, ditopang negara. Saya belum tahu apakah di Indonesia hal ini diperhatikan dengan baik. Misal, adakah hak untuk membuat jam kerja menjadi fleksibel (flexitime) sesuai kebutuhan karyawannya. Beberapa tempat kerja, seperti universitas akan cukup akomodatif tentang hal ini, namun tidak semua juga.
Jika masih ingin bekerja, mungkin bisa dengan mencari yang bisa paruh waktu. Pekerjaan yang bisa dikelola sendiri, sehingga tidak perlu banyak meninggalkan keluarga, misalnya. Beberapa teman milenial mengambil pekerjaan sebagai content editor, bisa dikerjakan di rumah. Itu salah satu contohnya.
Ajak juga pasangan berkomunikasi tentang situasi ini. Support pasangan sungguh penting untuk terjadinya keseimbangan.
6. Apakah ada penelitian-penelitian yang menyatakan hubungan antara status ibu (ibu bekerja/tidak bekerja) dengan kualitas anak (baik kecerdasan, kejiwaan, dan spritual) dan signifikan atau tidak perbedaannya?
Jawab:
Banyak penelitian tentang dual earner families. Jika kedua-duanya bekerja lalu yang terjadi adalah work-family conflict, maka dampak yang kurang menguntungkan biasanya terjadi.
Mohon maaf saya tidak terlalu detail tentang siapa penelitinya ya (tidak ingat), tapi pada keluarga dengan dua orang tua bekerja, tiga perempatnya memiliki anak bermasalah. Ada sebuah penelitian tentang ini. Ketika orang tua terlalu fokus pada karier, maka pengaruh dari teman juga lebih kuat, dibandingkan pengaruh dari orang tua/ keluarganya. Penelitian ini juga ada.
Data akan lebih "menyedihkan" jika kita lihat pada pekerja yang model bekerjanya jam-jaman. Misal kalau di AS itu orang bisa punya job sampai 3, di mcD, di wendy, di pizza hut misalnya. Jam-jaman. Pulang-pulang orang tua sudah capek, belajar anak-anaknya tak terpantau dan seterusnya.
Untuk keagamaan (saya lebih senang menyebut demikian, daripada spiritualitas), ini bagus untuk kita jadikan ide penelitian di Indonesia. Bagaimana para ibu bekerja bisa memastikan bahwa anak-anaknya terbina kualitas dirinya dengan baik, termasuk keagamaan.
7. Saya masih bingung terkait tiga indikator yang disebutkan di atas yaitu waktu, komitmen/keterlibatan dan kepuasan. itu maksudnya bagaimanakah jika diterapkan dlm QWL dan hubungan dengan keluarga?
Jawab:
QWL mensyaratkan adanya balance. Kalau mau disebut kehidupan bekerja kita berkualitas, maka antara bekerja dan kehidupan di luar bekerja itu seharusnya balance. Istilah lainnya enhanced. Bekerja akan memperkuat kehidupan keluarga, keluarga juga berdampak baik terhadap pekerjaannya. Bukan saling melemahkan.
Tiga indikator yang dimaksud, berlaku di area bekerja dan di luar pekerjaannya.
- Waktu: sama-sama mendapatkan waktu yang cukup.
- Komitmen/keterlibatan: sama-sama mendapatkan komitmen yang cukup
- Kepuasan: jika diukur kepuasannya, terhadap pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan, orang sama-sama merasakan puas/senang.
Banyak di negara lain orang terserap pekerjaan sedemikian rupa, sampai harus mengatakan "I do not have a life".
Dan sebenarnya, dalam hidup kita ada lima relasi yang harus kita pelihara:
1. Terhadap Allah
2. Alam/lingkungan
3. Sesama manusia
4. Diri sendiri
5. Benda/ciptaan.
Sedang pekerjaan kita, itu sebenarnya kita lakukan karena kita mau bersyukur. Jika tujuannya itu, biasanya otomatis pada balance sendiri. Maaf agak belok dari mainstream work-life interface.
Dunia modern seringkali melihat pekerjaan tereduksi sedemikian rupa. Dia tak menimbang bahwa setiap insan yang bekerja memiliki relasi (lima yang tersebut di atas) yang jarus dijaga.
Direduksi, misal untuk profit saja ukurannya. Akibatnya, yang terjadi "imbalance".
8. Apakah definisi 'work' dalam 'work - life balance' hanya untuk pekerjaaan yang menghasilkan 'rupiah award', bagaimana dengan seorang IRT, apakah perlu work life balance karena bisa tampak sekali kalau kerjaannya (cuci piring, nyapu, ngepel, ngasuh anak dll) tidak menjamin menghasilkan rupiah?
Jawab:
Pertanyaan bagus. Kebanyakan penelitian WLB memang masih terkait dengan paid work. Tapi tidak berarti seorang ibu yang penuh waktu (full time mother), lalu tidak bisa memperoleh balance.
Definisi balance bisa berkaitan pula dengan beragam peran lain. Misal, seorang ibu penuh waktu, juga bisa berperan sebagai penggerak masyarakat. Artinya, perannya tidak cuma satu sebagai Ibu. Tapi memiliki peran lain juga, meskipun sifatnya unpaid. Agak menyimpang dari istilah "kerja" dalam telaah umumnya. Tapi bisa diperluas ke sana.
Setiap insan bisa menjadi "contributing member" untuk masyarakatnya. Tidak hanya mereka yang terlibat dalam paid work.
Sejujurnya, kalau nilai-nilai keyakinan saya justru me "warning" agar pekerjaan kita jauh dari tujuan materialistik (akumulasi materi), tapi lebih mulia jika tujuannya adalah untuk memberikan kemampuan, waktu dan tenaga kita untuk orang lebih banyak
9. Apa saja indikator keberhasilan WLB? Apa yang menandakan kita sudah berhasil menjalani hidup yang seimbang?
Jawab:
Keberhasilan WLB... Nilai puncaknya adalah satisfaction. Tak bisa disamakan. Ketika secara psikologis kita telah "ridho" dengan kehidupan kita, maka itulah balance sebenarnya.
10. Bagaimana dengan memulai usaha dirumah sambil mengasuh anak dan mengurus keluarga? Apakah itu ide bagus atau tidak? Lalu apa kiat-kiat yang ibu sarankan untuk hal ini?
Jawab:
Memulai usaha di rumah itu bagus. Kalaupun bukan usaha mandiri, pekerjaan yang bisa dikerjakan di rumah juga bagus. Ini ada data, di London (Hmmm atau Inggris ya, maaf akurasi agak terganggu), 40% wanita memilih bekerja dari rumah. #Jamannow, memungkinkan untuk itu.
11. Bagaimana jika distraktor yang membuat tidak fokus dengan pekerjaan karena pikiran kita sendiri yang selalu kepikiran banyak pekerjaan dalam satu waktu? Pengennya sekali jalan semua selesai. Kayak selalu kemrungsung. Wanita pada akhirnya dituntut menjadi multitasking. Apakah itu baik dan menunjang WLB? Jika iya, bagaimana caranya?
Jawab:
Untuk banyaknya hal yang kita pikirkan, coba kita buat prioritas. Darimana membuatnya? Dari hal-hal yang besar dan penting dulu. Urusan kecil bisa sambil jalan saja.
Coba kita buat list. Apa saja yang menjadi peran kita.
1. Ibu
2. Istri
3. Karyawan
4. Tetangga
5. Anggota keluarga besar
Masing-masing kita tentukan tujuan yang ingin dicapai dari peran tsb.
Misal:
1. Ibu: mensupport pertumbuhan anak, menjadi teman ketika dibutuhkan
Cara: membantu keperluannya, meringankan kesulitannya
Waktu: misal pagi hari (critical time biasanya), pulang sekolah, dan malam hari
Jadi di critical time tersebut, distraktor jangan dilayani dulu. Misal ngecek pesan di wa (tidak penting ini, tapi tampak urgent kan). Setiap kita pasti multitasking. Perannya tidak pernah cuma satu. Para ibu yang luar biasa di sini, bisa identifikasi peran2 tsb, dan melihat situasi ideal yang kita inginkan terkait peran tsb.
2. Sebagai istri, misalnya lagi: mendukung suami, menjadi temannya, resourceful ketika diperlukan idenya.
Kapan waktunya?
12. Bagaimana dengan wanita yang kesulitan multitasking?
Jawab:
Kalau pekerjaan itu butuh fokus sekali, dipakai multitasking memang menjadi sulit. Ketika berhadapan dengan tugas seperti ini memang kita harus curahkan waktu dan mental ke situ dulu (diprioritaskan). Sukur-sukur bisa dicicil, maka kita beri dia alokasi waktu seperlunya.
Misal: analisis data, bikin desain dan semacamnya. Kalau tidak fokus tak rampung-rampung.
Ketidakmampuan multitasking (bukan karena tugas amat serius) memang bisa terjadi. Saya amati karena terjebak pada distraktor atau situasi khusus.
Contoh kasus: Long distance family. Agak distress karena sehari-hari urus keluarga sendirian, suami kerja di luar kota. Pelarian: banyak gadget. Dampak: rumah tak terurus. Anak: kurang perhatian
Ketidakmampuan multitasking-nya dipicu stressor, coping-nya keliru (ngegadget). Di situasi itu butuh (istilah teman saya), syaraf yang lebih tebal untuk tak mudah kesal, sehingga kehidupan tetap bisa berjalan baik.
13. Bu Emi, terkait salah Satu indikator keberhasilan WLB adalah satisfaction, sedangkan "standard ridho" suami berbeda-beda, kalau untuk full time mother,
bagaimana agar balance antara keluarga inti dan keinginan bakti ke keluarga besar ataupun masyarakat sekitar?
Jawab:
Betuuul sekali. Ambang ridhonya beda-beda. Ini beda issue WLB barat dengan Indonesia, terutama pada masyarakat Muslim. Ada masalah ridho suami.
Kita bisa gunakan cara identifikasi peran dan kondisi ideal yang diharapkan tadi.
1. Keluarga inti: loving and caring mom and spouse, misalnya
2. Keluarga besar: supportif, caring, resourceful, generous, misalnya lagi.
3. Masyarakat: contributing member untuk masy sekitar.
Btw coba kalau kita lihat ya... Ternyata urusan kita terkait peran-peran tersebut adalah "memberi". Apapun bentuknya.
14. Pasangan tidak pernah mempermasalahkan bekerja di luar, tapi justru jika full di rumah akan merasa bosan, lalu apa yang harus dilakukan?
Jawab:
Kembali ke persoalan ridho tadi: beberapa suami akan mengijinkan kita berbuat lebih banyak di luar, cuma kita musti mengomunikasikan bagaimana soal perhatian ke anak-anak. Apakah bisa didialogkan? Bagaimana keduanya akan saling mendukung?
15. Saya mahasiswi film. Setelah saya sempat magang dan bekerja, dunia itu terlalu menyita seluruh waktu, pikiran dan tenaga saya. Tapi memang tidak selalu, hanya saat ada proyeknya. Saya jadi terpikir untuk tidak harus bekerja di film saat setelah menikah. Tapi yang saya khawatirkan bagaimana jika saya menyesalinya? Kuliah belajar tentang hal tersebut tapi tidak digunakan. Apa yang harus saya pahami untuk menerimanya?
Jawab:
Masyaallah senangnya belajar film ya. Kira-kira apa yang dikorbankan untuk tetap menggunakan kemampuannya dalam hal ini?
- Dialog dengan calon suami tentang sifat pekerjaan. Jika kelak ridho dan mendukung... Wah lampu ijo ini.
- Bisakah skill ini dipakai untuk tujuan bersyukur: misal dengan mencari kemanfaatan lebih tinggi dari karya filmnya nanti, misal untuk mencerahkan masyarakat.
- Terpaksanya harus meninggalkan... Kok saya amati dalam seluruh perjalanan hidup manusia itu tidak ada yang sia-sia. Yang Allah berikan kepada kita kesempatan untuk menguasainya, pada suatu hari ternyata ada guna nya. Selalu demikian. Dots are connected.
Mungkin ketika anak-anak sudah cukup besar tetnyata kita bisa melakukan sesuatu dengan itu. Atau siapa tahu Insyaallah, kalaupun ketika mereka masih kecil, ternyata selalu saja dimungkinkan membawa mereka ada di dekat-dekat kita bahkan ketika bekerja.
Ketika remaja, saya punya aspirasi begini: tak mau kalau cuma berkarier, kering kayaknya.
Keluarga bagi saya penting, saya ingin jadi ibu yang baik. Tak tau bagaimana, kok desain hidup saya, saya selalu punya anak masih kecil ketika sedang menempuh studi. Jadi tidak harus full time kerja. Mendampingi masa kecil anak dimungkinkan.
Harapan kita itu seringkali dijawab Tuhan, dan hidup kita mengalir seperti yang kita bisikkan di dalam hati ternyata
16. Sebagai peneliti 'WLB mainstream' sekaligus peneliti dalam Asosiasi Psikologi Islam, saya ingin mengetahui bagaimana Ibu membahas WLB dalam sudut pandang Psikologi Islam?
Jawab:
Prinsip haq itu menjadi pokok dalan kita bekerja. Haq bermakna benar, balance, adil, dinamis pada porosnya. Bahwa sekarang dunia berlikir tentang WLB, itu sedang mendekati haq. Tadinya mereka mereduksi. Kini berpikir melihat manusia yang bekerja secara multidimensi.
Dampak dari tekanan bekerja bisa sangat buruk. Di Amerika, orang menyebutnya dekat dengan resesi sosial. Munculnya a generation if wimp (lemah). Di Eropa, dorongan untuk berkarier bagi laki-laki dan wanita, membuat mereka enggan berkeluarga dan beregenerasi sehingga jumlah penduduk anjlok. Maka dibuatlah family friendly policy.
Nah... Haq adalah sesuatu yang paling mendasar dalam Islam.
Atas alasan apa kita bekerja? Untuk apa? Bagaimana caranya? Apa yang dihasilkan. Kesemuanya harus benar dahulu. Memang kalau tak benar apa risikonya? nanti akan terjadi kebocoran di area lainnya. Bekerja dan karier baguuus tapi kehilangan makna, misalnya.
Psikologi Islam semestinya mendudukkannya pada tempatnya yang benar dan semestinya.
Prinsip: haq
Tujuan: Bertazkia
Nilai tertinggi: syukur
Penutup
Saya mungkin menutupnya dengan ini...
Bahwa untuk sukses (arabic: falah), perlu ujian (ibtila). Ini keniscayaan. Maka upaya membuat balance itu juga sebenarnya proses melalui ujian tersebut. Mengerjakannya dengan benar (haq), sabar dan dengan cinta (marhamah).
Sejauh-jauh yang kita capai dalam pekerjaan, akhirnya kita semua, bapak dan ibu, akan dimintai tanggungjawab terutama tentang keluarga. Maka kita tune semua peran hidup kita agar tak berat sebelah..

Comments
Post a Comment