Adzan magrib berkumandang, kamu tak jua mengabariku.




Dua puluh delapan juni, aku tidak tahu kamu sedang apa, dimana, bersama siapa, sudah makankah, sudah mandi, dan rindukah padaku? Hingga aku selesai melantunkan beberapa bait ayat suci, tidak juga ada pesan singkat itu. Kasian si nonok yang sedang aku isikan daya baterai, tidak mendapatkan pesan dari seorang spesial di daftar kontak.
*tarik nafas dalam-dalam, hembuskan, fiuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh*
Aku sudah melakukan ini beberapa kali sedari pagi.
Lelaki berhidung mancung itu akhirnya mengutarakan gundah hatinya, kemarin malam. Sepertinya saat itu aku serasa disetrum. Tidak sampai lah pada rasa disamber gledek. Tidak. Tidak.
Apa yang terucap bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan sih, tetapi cukup membuat kantukku hilang saat itu. Aku mulai membaca situasi tidak kondusif ini sejak beberapa hari yang lalu. Lalu diperjelas olehnya. *ah mataku mulai panas*
Sejak malam pengutaraan itu, aku menunggu balasan pesan singkat yang tidak kunjung terbalas. Satu jam. Dua jam. Empat jam. Hingga aku tertidur.
Ya Allah udaranya dingin sekali. Dingin sekali. Di bawah alam sadarku, aku menggenggam erat selimut tebal kuningku. Aku harus bangun, mandi, dan bergegas pergi. Aku harus pergi untuk mengambil surat puas tugasku.
Pukul tujuh yang dingin, aku berangkat.
Dua rasa didalam hati. Pertama, aku harap bisa bertemu kamu di tempatku. Kedua, aku harap kita tidak bertemu. Aku tidak siap jika kamu akan membaca mataku. Tatapan ….. Ku.
Awalnya kita tidak bertemu. TetapI ketika aku menyusuri lorong menuju Laboratorium transportasi, seorang teman melambaikan tangan kepada seorang lelaki jauh di sebelah kiriku. Aku juga menghentikan langkah sebentar dan menengok, siapa itu? Daya tangkap mataku lemah, aku tidak bisa melihat siapa di sana. Dan dia berkata. Itu kamu.
Huft. Lututku melemas. Kita berada di tempat yang sama ya. Dekat sekali. Pun kau tidak juga menghubungiku. Separah itu kah rasamu padaku? Ah alasan. Alasaaaan. . *mataku mulai panas lagi*
Kemudian di tempat yang berbeda, aku menunduk. Masih menunggumu sebenarnya. Aku tipe orang yang tidak bisa berpura-pura baik, berpura-pura senyum, dan berpura-pura tertawa.Semua itu akan terbaca jelas di raut wajahku.
Aku menunduk. Menunggu si nonok berbunyi dan namamu yang keluar. Tetapi sama saja seperti menunggu pelangi yang tidak juga muncul seusai hujan. Hingga adzan magrib bersambut adzan isya, kau tidak juga mengabariku.
Aku mendongak dari tundukanku, aku mendengar teguranmu, tetapi apakah itu kamu yang menegurku? Oh semoga aku tidak salah dengar, maklum kadang-kadang aku sering salah dengar.
Aku melihatmu sepintas. Ah kamuuuuu L aku kangen kamu mbeeem  LL bisakah menghampiriku, berdiri disampingku, kemudian mengajakKu berbincang seseru kamu berbincang bersama teman-teman yang lain. Sebentar saja. sebentar. Tapi ya sudahlah. Berlalulah dan teruslh melangkah. *ah akhirnya pipiku basah*
Sesibuk itu kah kamu? Iya mungkin kamu sedang ada urusan lain yang lebih penting. Kerjakan saja. kerjakan sampai selesai ya J atau mungkin kamu banyak fikiran? Atau mungkin kamu gak sempat balas smsku, atau mungkin mungkin mungkin ah Iya mungkin saja. kemungkinan, kemungkinan, kemungkinan.
Sama seperti kata yang kamu lontarkan ke aku, “tahu apa sih?’ aku jawab, “ aku gak tahu apa-apa”
Selepas itu. aku menempuh delapan puluh kilometer yang hangat (kembali pulang). Hatiku berkecamuk. Kita berada di tempat yang sama. Tetapi dengan urusan yang berbeda. Itu kendalanya. Kita tidak pernah memiliki waktu yang sama-sama bebas yah? Hmm ya sudah tidak apa. Ya sudah tidak apa. Ya sudah tidak apa-apa. Hiks.
Aku sampai di rumah, melepas lelah di kamar dan kasur nyaman itu. aku mendengarkan sebuah lagu Tompi yang terus berulang hingga ketiduran. Judulnya aku jatuh cinta.
“hari ini aku telah jatuh cinta,
Takkan mampu aku menyangkalnya. 
jatuh cinta kepadamu.
Sosok yang sering menjengkelkan aku, sering menggangguku, kau permainkan rasa hatiku.
Namun kini aku berbalik, jatuh cinta dan bernyanyi lalalla lalala lalalalalalal lalalallaa
Aku jatuh cinta kepada dirimu
Orang yang tak pernah aku bayangkan
Tak pernah ku mimpikan untuk bisa jadi pacarku. Uuhuuu”

Lalu aku terlelap sembari memeluk guling dengan seprai bermotif bunga mawar merah,
Tidak banyak kata. Tidak banyak ingin (lagi). Ini baru setengah tahun perjalanan kita. Aku tidak tahu harus bertingkah seperti apa. Maksudku aku belum tahu harus bertindak apa ketika kerikil semacam ini tersebar didepan jalan kita. Apakah kamu tipe orang yang dibiarkan dahulu, kemudian hatinya tenang dan akhirnya baikan. Atau tipe orang yang semakin dibiarkan justru semakin mengakukan keadaan. Aku belum tahu cara menghadapimu. Perempuan macam aku ini.  
aku akan mengamati semampuku, menafsirkan semampuku, dan mencoba mengambil tindakan untuk kebaikan bersama.
Hingga tarawih pertama berakhir. Kaupun belum juga mengabariku. Dan aku masih seperti orang beloon menunggu pesan darimu.
Ya sudah aku menyerah menunggu hari ini. tetapi menunggu untuk hari berikutnya

MARHABAN YA RAMADHAN y, Ar.

Selong, 28 juni 2014
09:16 wita






Comments

Popular Posts