Kami Juara Dua
Kami Juara
Dua
Malam puncak itupun tiba. setelah menanti
sekian hari dengan rasa optimis yang mengembang dalam dada. Aku yakin atas
semua usaha dengan melibatkan kekusaan Allah didalamnya akan berujung baik dan
berkah. Keyakinan yang menggunung sama seperti keyakinan-keyakinan sebelumnya.
Tidak berubah sedikitpun.
Kami menyadari bahkan sejak pertama
kali mengambil bahan baku itu di tempat pemesanan. Kecewa sempat menghinggapi.
Tetapi aku palsukan raut wajah ini menjadi menerima. Karena seburuk apapun yang
ada dihadapanku saat itu, usaha untuk menemukan dia yang kami maksud adalah
suatu kegiatan yang melelahkan. Jadi. Menghargai adalah cara penghormatan
paling manis.
Dengan segala transparansi, kami
berdiskusi. Menjaga perasaan agar tidak ada yang terluka dan menggores
kesolidan tim yang sedang berjalan. Sepuluh hari bersama, cukup kuat membangun
kekuatan hati.
1 April 2014, pukul 09:00 am kami
terhenyak menyaksikan peserta yang datang membawa alat perang tidak sesuai yang
tertera dalam syarat. Sial. Apakah kami terlalu patuh aturan? Jadilah timku
yang paling tidak siap. Kelihatannya seperti itu. tetapi aku yakin kami benar.
Permintaan keadilan pada panitia kami lakukan. Ya ternyata iya. Kami yang
benar.
Bismillahirrahmanirrahim.
Kami memulainya, untuk dua jam
kedepan yang diperjuangkan.
Aku, melihat sekeliling. Berharap
dia datang untuk menyaksikan momen pentingku. Bagiku ini momen penting. Dalam
peluh yang membasahi baju angkatan berwarna hitam, aku mencoba melihat dengan
jelas para penonton disekitar arena, pukul 10:00 am, dia tidak juga datang.
Ya sudahlah. Aku mencoba berfikir
dari sisi yang lain. Mungkin ada hal lebih penting dari sekedar menonton kami.
Ya sudah. Aku lapangkan hati ini selapang-lapangnya. Aku kecewa. Iya aku
kecewa. Aku ingin marah rasanya. Tapi, yasudahlah. Tidak akan aku lakukan.
Aku dan Ilmi atau sering aku panggi couss menangani kerangka, dan Atika
menangani taman. Semoga dua jam dapat termanfaatkan dengan baik.
Peluh menetes semakin deras. Waktu
juga berjalan tidak kalah cepat. Terserah tampang kami seperti apa. Entah
jilbabku yang tidak rapi, entah cat air muncrat disana-sini, entah akan sejelek
apa kami di arena. Kami tidak peduli. Ini
momen penting. Ini harus diperjuangkan!!
Alhamdulillah
komunikasi berjalan lancar sesuai simulasi kemarin sore (31/3). Miniatur
jembatan busur kami jadi. Dilanjutkan dengan persentasi dihadapan dua orang
dosen. Hasil jadinya, jemabatan bususr kami bermasalah pada lengkungannya. Iya.
itu memang masalah sejak awal. Tenang. Akan ada penjelasan tentang itu pada
saat persentasi nanti. Semua akan baik-baik saja oh jembatan. Jangan khwatir.
*ngomong ama jembatan*
Pukul 01:00 pm, kami persentasi.
Tuhan. Degupan kencang ini berhasil membuat suhu tubuhku meningkat. Panaaas
sekali.
Well.
Giliran tiba. dan kami persentasi.
Lagi-lagi kembali untuk 1/4/2014.
Pukul 10:00 pm, akhirnya pengumuman
juga. Yah. Kami menyabet juara dua. Apa kata hatiku. Benar kan! Kami pulang
membawa piala, sertifikat, uang tunai, dan kedudukan baru sebagai anggota tim konstruksi
kampus. Alhamdulillah atas semua rezeki malam kemarin.
Terima kasih Allah atas usaha dan
keyakinan yang berbalas setimpal. J
Mataram, 16 April 2014.
04:19 pm

Comments
Post a Comment