AKU MENATAPNYA, PENUH KEBANGGAAN
AKU MENATAPNYA, PENUH KEBANGGAAN
Aku
membenarkan judul sebuah novel yang
membuatku jatuh cinta. Bahwa “daun yang jatuh tidak pernah membenci angin.”
Mengapa aku berkata demikian, bagaimana tidak? Begitu aku merasa
rencanaku pagi ini gagal karena sesuatu diluar dugaan, lantas Allah memberikan
aku sebuah kejutan kecil. Kejutan yang sangat aku tunggu-tunggu. Aku pikir
bahwa aku telah melewatkannya begitu saja. Aku pikir bahwa tidak ada
kesempatanku untuk mendapatkan ilmu darinya. Tapi? Allah memang Dzat paling
sempurna. Aku menoleh menghadap kanan dari posisi dudukku, dan kudapati dia
menggunakan stelan baju hitam putih.
Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Ingin rasanya aku berteriak histeris sembari melompat tinggi. Aku
ingin berteriak melepaskan rasa bahagiaku. Namun, aku tahan semua rasa itu
dengan anggun. Aku akan datang. Aku pasti menghadiri momenmu. Aku janji!!
Tuhanku, Allah penguasa segala rasa.
Siapa bilang aku terlambat? Justru aku yang memulainya
dibandingkan dengan mereka yang menceritakannya padaku, waktu itu.
Aku. Tidak akan melewatkan kesempatana emas 24 karat ini. aku
jelas tidak akan mendapatkan bimbingan praktikum lagi darinya, tetapi moment
ini aku tidak akan pernah sia-siakan. Peduli apa atas kegagalanku tadi pagi.
Allah telah menggantinya dengan hal yang paling aku inginkam.
Aku memasuki ruangan dengan hati berdegup kencang. Aku atur
senyum yang selalu merekah dikulum. Aku membaca materi dengan khusyuk dan mataku
menatapya sedikit lebih lama. Aku benar-benar kagum. Kekagumanku ini dan segala
gerakku semoga tidak terbaca oleh siapapun. Aku selalu mencoba bersikap biasa
saja. terbilang cuek bahkan. Semoga tidak ada yang mengetahui. Semoga tidak
ada.
Acara segera dimulai. Dengan santainya dia membawakan materi itu.
aku mendengarkan dengan seksama. Aku membandingkan bagaimana cara dia
membawakan isi materi itu dengan sangat santai tetapi berisi. Ini benar-benar
persentasi. Pun pemikiranku sama dengan beberapa dosen penguji di ruangan itu.
dia benat-benar cerdas. Aku menyukai laki-laki pintar ini. Tuhaaaaan. Aku ingin
menjerit lagi. Huft
Sesi pertanyaan tiba, aku mengacungkan kelima jariku untuk
mengajukan pertanyaan. Syukurlah dia bisa menjawab dengan lengkap. Mataku
menatap matanya, pun sebaliknya. Benar kata seorang teman. Mata sayunya indah
sekali.
Dalam ketegangan itu dia sempat saja bercanda. Aku akui dia lucu
sekali. Ahahhaha dia konyol. Dan ekpresi muka itu selalu ingin membuatku
tertawa terbahak-bahak.
Oh iya, terima kasih sudah menagajariku Gambar Teknik 1 kak.
terima kasih JJ
Sekarang giliran dosen. Iya masukan dan kritik mengalir untuk dia
dan rekan presentasinya. Alat uji praktikumnya sudah datang dan bernilai Rp.
800.000.000. Wow mahal betul.. hebat!! J dan juga semoga bisa com
claude ya kak. semoga ilmu itu bermanfaat.
Setelah itu, kau mengucapkan terima aksih untuk kami, peserta
yang antusias. Juga pesanmu kepada kami untuk datang pada seminar hasil: 5
bulan kedepan. Aku mendengarnya sembari berlalu bersama teman-teman. Semoga
Allah mengizinkan aku untuk itu.
Jika tidak ada halangan, aku pasti datang. Gumamku dalam hati : )
Mataram, 15 April 2014
03:32 pm

Comments
Post a Comment