Lagi-lagi kuasa Allah
Lagi-lagi kuasa Allah
Aku melambatkan diri pagi ini. Mencoba menenangkan
diri dari seduan hebat tadi malam. Aku tidak ingin tidur, toh menyerah juga
pada kegelapan. Aku tertidur. Terlelap dibawah selimut coklat bermotif bunga mawar.
Pagi ini memang lebih tenang dibandingkan perasaan
hati tadi malam. Terserah. Aku ucapkan itu didalam hati. Tidak akan aku
keluarkan. Aku berjanji untuk tidak akan mengeluh dan mengeluarkan kata-kata
menyalahkan Allah, sesulit appun hari ini, esok, esoknya, bahkan setiap hari, aku
akan menjaga lisanku. Bukankah sepuluh tahun yang lalu juga jauh lebih sulit
dibandingkan saat aku tuliskan kisah ini? iya. jauh lebih mengacak jiwa. Jadi,
tidak ada keluhan, karena aku tidak ingin menjadi hamba yang tidak bersyukur.
Well, pagi ini aku bangun pagi sekali. Padahal aku
tidur larut. Tetapi kelelapan dan mimpi itu cukup berkualitas dan memberikan
aku energi pagi ini. Mimpi aku menajdi ARSITEK YANG HANDAL. Aamiin allohumma
aamiin.
Bangun sepagi itu, aku kerjakan yang tidak ingin aku
kerjakan pada awalnya. Tetapi semua selseai sebelum pukul 07:00 pagi. Kuliahku
dimulai pukul 08:00 sesuai permintaan dosen yang harus mengantar anak-anaknya
ke sekolah. Baik, pukul 07:40 aku berangkat.
Aku
berusaha mengendalikan perahuku dengan dayung yang aku buat sendiri, dengan
jaitan pengalaman dan kayu keberanian, aku kayuh perahu yang kecil ini. perahu
itu hanya seukuran aku. Hanya aku yang memiliki kendali atas perahu itu.
mungkin akan aku perlebar suatu hari, untuk yang ingin mendayuh bersamaku,
tidak mengapa, merapatlah.
Perahuku
mengarungi sungai yang sama seperti waktu sebelum-sebelumnya. Waktu dulu,
begitu luas dan menenangkan. Tetapi sekarang tidak lagi. Banyak sampah yang
menghambat perjalanan dan membuat sungai itu kotor. Aku risih melewatinya. Bahkan
pagi ini benar-benar tidak ada ruang untuk lewat. Habislah aku! Sampah
mengacaukan perjalannku.
Aku putar
arah, mencari tempat yang bersih. Meskipun tidak sebersih dulu. Tidak bisa!!
Tidak ada!! Aku lelah mengayuh sendiri, keringatku bercucuran. Aku cari botol
minumanku. Sial!! Airnya habis. Aku lupa mengisinya tadi malam. Lantas,
bagaimana caraku mendayung perahu ini dan menyelamatkan tenggorokanku dari
haus? Tidak ada siapa-siapa yang bisa
aku mintai tolong. Astagfirullahaladzim, aku hanya bisa mengucapkan lafaz ini
seraya memohon bantuan Allah.
Hausku
sudah semakin menyiksa, aku rela meminum air danau itu. terpaksa. Lantas aku
mengayuh lagi. Astaga aku harus segera sampai di lokasi sesegera mungkin. Tapi
bagaimana cara melewati sampah-sampah sialan ini.
Mataku liar
memperhatikan sekitar. Ada orang di sana. Aku berusaha mencapainya. Dan
berhasil. Yeah Alhamdulillah. Aku bertanya arah jalan pulang. Yang pasti arah
keluar dari tempat ini. Alhamdulillah lagi dia menunjukkannya padaku.
Kutelusuri
jalan itu, dan aku berhasil. Meskipun terlambat, setidaknya aku bisa hadir.
Dear Allah. Tidak ada yang tidak mungkin di mata-Mu.
Semuanya pasti memiliki jalan keluar dan penyelesaian. Aku mencintai-Mu lebih
dari apapun. kau jatuh dan bangunkan aku. Kau sedih dan bahagiakan aku. Kau
kuasai segala emosi bergejolak dalam batinku. Hari ini kau kejutkan aku. Kau
jawab pula segala mohonku. Allohu Akbar. Aku berlindung di jalanMu. Lancarkan
setiap hari-hariku ya Allah. Aamiin..

Comments
Post a Comment