AKU; TEH

INI BAGIAN PALING KU SUKA
(Buku My@LongDistance_R)
Dengan editan seperlunya  (Ria Rizky Rahmalia)

AKU; TEH

Kita adalah secangkir teh.
Orang, keadaaan, dan suasana, bisa merubah kita.
Mulai dari manis hingga pahit.
Ditambahka gula, kita manis; tapi kita tetap teh.
Ditambahkan susu, kita legit; tapi kita tetap teh.
Ditambahkan es, kita melegakan; tapi kita tetap teh.
Ditambah buah, kitai bersensasi; tapi kit tetap teh.
Ditambahkan apa pun, dibuat berapa kali pun, tak berubah.
Kita  tetap teh.

Belum tentu semua orang dapat mendapatkan sisi manismu.
Dan belum tentu, kau memberikan rasa manismu pada semua orang yang tak bisa mengerti “karaktermu” meskipun semua orang berusaha terbiasa, kau tetap tak akan menunjukkan pada semuanya.

Sedangkan teh biasa, akan menunjukkannya tanpa basa-basi.

“Sedalam itu?”

“kau saja yang tak mengerti. Lagi pula, saat orang merasakan pahitmu sedikit saja, ada yang beralih dan berpaling kan? Namun,ada yang tidak karena dia memahami “karaktermu” yang memang tak diciptakan untuk manis sebagaimana yang lain.”

“Tak ku sangka, jika memang begitu, maka kita akan selalu bersanding.”

“Maksudmu?”

“Saat orang merasa terlalu pekat, mereka akan mencari pengencer dengan tidak merubah nilai rasa serta cita  rasa agar tetap nyaman di lidah mereka. Lalu, hadirlah kalian atasku.”

“Tapi, bukankah kau bisa lebih fleksibel dibandingkan aku? Orang bisa menambahkan apa saja agar sesuai dengan lidah mereka. Sedangkan aku? Aku sudah spesifik. Apa istimewanya aku? Tidak ada.”

“istimewanya kamu (kalian)? Karena hanya kalian yang kuinginkan untuk melengkapi kekuranganku,”

Saat teh tak lagi hangat dan menenangkan. Rasa manis menjadi hambar. Saat teh menjadi dingin, semua orang akan menyepelekannya dan akan ditinggalkan begitu saja meskipun kita tetap teh. Semua orang bisa merasakan ketenangan dan kenyamanan.
Musiman.

Tak setiap waktu teh bisa memberi kenyamanan dan kehangatan.

Terkadang terlalu panas hingga membakar lidah sehingga mati rasa, terkadang terlalu dingin sehingga ngilu. Terlebih lagi saat terlalu lama dibiarkan tak habis, kita akan dingin dengan sendirinya, membuat orang lain melirik saja tidak bisa. Ditambah es pun, tak akan merubah keadaan. Meskipun kita tetap teh.

 “Kau berlebihan. Kau terlalu pada siapa saja.”

“Kenapa dingin dan menggertak?”

“Kau sama seperti orang lain. Kau butuh aku saat aku panas dan dingin. Saat dingin bukan pada es, kau juga ikut dingin padaku.”

“dengan adanya kalian, dan berubah menjadi creamy, apa kau akan berubah menjadi hangat? Tidak kan? Akan tetap dingin dengan sendirinya kan?”

“memang”

“lalu jangan menggertakku, kalian hadir atasku dan menyesuaikan diri terhadapku. Saat orang tak lagi melirikku dan membutuhkanku, kalian akan tetap mampu melengkapiku, tak membuatku merasa sendiri, tapi kalian  malah mendengarkanku dan duduk disampingku.”

Saat emosi sesaat meluapkan segalanya. Saat apa yang diucapkan begitu saja menjadi sebuah bahan yang mudah disesali. Sudah saatnya apa yang kita lakukan menjadi sebuah bahan refleksi diri, mencoba menilik dengan pandangan dan suara hati.

Seperti yang mendidih, orang akan menantinya reda untuk lebih bisa mengenalnya.
Seperti teh yang dingin karena orang menambahkan es padanya.

Seperti teh mendidih yang nantinya akan dingin dengan sendirinya, lalu terabaikan.

Siapa yang akan menegak teh yang sudah lama diabaikan dengan senang hati dan merasakan kenikmatannya seperti sebelumnya?

Pandailah membaca keadaan dan menjaga perasaan agar apa yang tak nampak menjadi mampu dirasa dan dimengerti.







Comments

Popular Posts