TAK TERASA

                                                                                                    TAK TERASA
(Kamis, 26 Desember 2013)

Jemariku pegal mengetik sekian kata untuk aku rangkai menjadi kalimat dan mengirimkannya kepadamu. Lantas aku meminta pesetujuan untuk menghubungimu malam ini. Sekedar berbincang sembari membantumu mengusir lelah yang menghinggapi raga beberapa minggu belakangan. Rehatlah sejenak. Kita berbincang-bincang kecil ya.
Selepas pukul delapan malam aku pastikan telponmu akan berdering. Tetapi jam masih berputar mengelilingi angka tujuh. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dahulu agar tidak mengganggu komunikasi kita nantinya. Agar malam ini tercipta canda antara kita tanpa halangan apapun.
Aku raih telepon genggam yang sedari tadi sudah memanggil-manggil. Ibaratkan saja seperti itu. Mencari namamu pada kontak lalu menghubungi. Tersambung dan terangkat.
“Hallo”
Suaramu terdengar dari kejauhan.
“hallo hallo, siapa?” tanyamu berulang kali.
Maklum saja, cuaca sedang buruk karena hujan yang mengguyur Mataram tidak kunjung reda. Mungkin gara-gara itu kata hallo hallo itu kudengar. Alhasil sambungan telepon menjadi terganggu. Lantas harus bagaimana? Tidak ada cara lain selain bersabar dan mencoba menghubungi lagi beberapa kali. Jangan menyerah! Jangan!
Entah apa yang menjadi topik awal pembicaraan kita. Mengalir begitu saja seperti water.  Iya seperti air. Seperti yang pernah ku lontarkan padamu ketika aku nyatakan kamu bukanlah pembohong yang baik. Sampai saat aku tuliskan cerita ini mungkin kamu belum mengerti makna tersirat dibalik kata berbahasa asing itu. Sudahlah. Lupakan saja ya Al.
Kita tertawa ringan menertawakan berbagai hal sepele dan tidak penting. Mengulas kembali kisah-kisah klasik pada saat masa kejayaan putih abu. Tentang indahnya kebersamaan dan kekompakan satu kelas, tentang sikap enjoy yang terbawa hingga bangku kuliah, tentang wanita-wanita pesolek penghuni kampus biru, tentang tas ransel yang digunakan hampir seluruh mahasiswa Teknik dan kantung mata para penghuninya, tentang ah aku bingung. Banyak hal tidak penting yang kita dibahas lantas menjadi sebuah lelucon. Haha
Malam semakin larut, meninggalkan angka delapan yang sudah aku targetkan. Sekarang kita meninggikan suara sedikit. Bukan untuk saling bentak. Bukan. Karena diluar sana hujan deras turun lagi. Bahkan suara hujan itu terdengar hingga tempatku, Gerung.
Hujan turun lagi menandakan jaringan akan mengalami gangguan. Tepat! Suaramu tidak bisa aku dengar dengan sempurna. Putus-putus. Menyebalkan. Mengganggu saja dan benar-benar menyebalkan karena harus mengulang kata-kata untuk memastikan kamu mendengar suaraku sepenuhnya.
Tuhan memang selalu baik. Selepas gangguan-gangguan kecil tadi, kita berkomunikasi lagi. Berbincang hangat. Sekian banyak perbincangan itu memastikan satu kondisi yang kita sepakati. “KEPO IS CARE”. Oh God. Kesepakatan macam apa itu. kesepakatan untuk lebih mengenal lebih jauh? Kemudian menjadi teman baik dan saling memahami satu sama lain? Oke mungkin seperti itu untuk melanggengkan suatu hubungan persahabatn. Aku harap begitu. Aamiin.
Tuuut tuut tuut.. sambungan terputus setelah durasi menunjukkan 00:25:16. Aku lihat handphone  dan jam sudah menunjukkan pukul 23:09. Sudah larut ternyata. Tidak ada lagi sambungan telephone kesekian kalinya. Aku cukupkan. Mungkin ada aktivitas lain yang akan kamu kerjakan di sana. Aku menemanimu dan akan setia menemani seperti janjiku, tetapi melalui pesan singkat saja ya. Semoga bisa membantumu yang berniat begadang. Ya hanya harapan biasa sih. Bagaimana tidak? Kamu selalu tidur. Ketiduran tepatnya. Iya aku paham. Kamu lelah. Tidurlah. Tubuhnya juga butuh istirahat.
Selamat malam ya Al. Semoga tidurmu berkualitas. SleepWell.


Comments

Popular Posts